Jumat, 14 November 2025

Proses Manufaktur II

1. Metode Inspeksi Pengelasan

Inspeksi pengelasan dilakukan untuk memastikan kualitas sambungan las sesuai standar. Metodenya dibagi menjadi dua kelompok besar:

a. Inspeksi Visual (VT – Visual Testing)

Pemeriksaan permukaan dengan mata atau alat bantu (lampu, kaca pembesar).

Mengecek bentuk bead, ukuran las, undercut, porositas terlihat, retak permukaan.

b. Non-Destructive Testing (NDT – Tidak Merusak)

Metode ini tidak merusak benda kerja:

  • PT (Penetrant Test) → deteksi cacat permukaan pada logam non-porous.
  • MT (Magnetic Test) → untuk material ferromagnetik, mendeteksi retak permukaan & dekat permukaan.
  • UT (Ultrasonic Test) → mendeteksi cacat internal seperti retak, pori besar, lack of fusion.
  • RT (Radiographic Test) → menggunakan sinar-X atau gamma untuk melihat cacat internal.
  • ET (Eddy Current) → untuk material konduktif, biasa pada inspeksi permukaan.

c. Destructive Testing (Merusak Benda Uji)

Untuk pengujian sampel:

Tensile test, bend test, impact test, macro-etch, hardness test.

2. Standar & Kode Inspeksi Pengelasan

Standar digunakan sebagai acuan untuk kualitas proses, prosedur, dan evaluasi cacat.

Beberapa standar umum:

  • AWS (American Welding Society) → misalnya AWS D1.1 untuk struktur baja.
  • ASME Section IX → pengujian welder dan prosedur (WPS/PQR) untuk industri pressure vessel & piping.
  • API (American Petroleum Institute) → untuk industri minyak dan gas.
  • ISO 5817 / ISO 3834 → standar mutu pengelasan internasional.
  • EN Standard lainnya tergantung aplikasi.

Fungsi standar:

  • Menentukan batas cacat yang dapat diterima.
  • Mengatur persyaratan inspeksi sebelum, selama, dan setelah pengelasan.
  • Mengatur prosedur kualifikasi welder dan prosedur pengelasan.

3. Cacat dalam Inspeksi Pengelasan

Cacat (defects) adalah ketidaksempurnaan pada hasil las yang dapat mempengaruhi kekuatan sambungan.

Jenis cacat umum:

1. Retak (Crack) – paling berbahaya; dapat berupa longitudinal, transverse, crater crack.

2. Porosity – lubang-lubang kecil akibat gas terperangkap.

3. Undercut – lekukan pada logam dasar di sisi weld bead.

4. Incomplete Fusion / Lack of Fusion – logam las tidak melekat pada base metal.

5. Incomplete Penetration / Lack of Penetration – penembusan las tidak penuh.

6. Slag Inclusion – terjebaknya terak pada logam las.

7. Overlap – cairan las mengalir keluar tanpa menyatu dengan base metal.

8. Excessive Spatter – percikan logam berlebih.

9. Distortion – perubahan bentuk akibat panas berlebih.

Inspektor menggunakan standar untuk menentukan apakah cacat “acceptable” atau “reject”.

4. Sertifikasi Inspektur Pengelasan

Inspektur pengelasan harus memiliki kompetensi teknis dan sertifikasi resmi.

Sertifikasi yang umum:

  • CWI (Certified Welding Inspector – AWS) → sangat dikenal internasional.
  • CAWI (Associate Welding Inspector – AWS) → level lebih rendah dari CWI.
  • SCWI (Senior CWI – AWS) → level lanjutan.
  • CSWIP 3.1 / 3.2 (UK – TWI/BSI) → banyak dipakai di industri migas & kilang.
  • API 570, API 510, API 653 → untuk inspeksi piping, pressure vessel, tank.
  • NDT Level I, II, III → sertifikasi khusus untuk metode NDT.

Tujuan sertifikasi:

  • Memastikan inspektor memahami standar dan teknik inspeksi.
  • Menjamin kualitas dan keamanan struktur atau produk.
  • Meningkatkan kredibilitas dan profesionalisme di industri.

5. Video YouTube


Kesimpulan Ringkas

Inspeksi pengelasan merupakan proses penting untuk memastikan kualitas sambungan las. Metode inspeksi dapat berupa visual, NDT, atau uji destruktif. Standar seperti AWS, ASME, ISO digunakan sebagai pedoman evaluasi. Berbagai cacat dapat muncul dari proses pengelasan, dan inspektor harus mampu mendeteksinya. Sertifikasi seperti CWI dan CSWIP memastikan bahwa inspektor kompeten dan memenuhi standar industri.

Sabtu, 18 Oktober 2025

PROSES MANUFAKTUR II

 Additive Manufacturing (AM)

Additive Manufacturing (pembuatan aditif) adalah proses pembuatan objek tiga dimensi secara bertahap dengan menambahkan material lapis demi lapis berdasarkan model CAD (Computer-Aided Design). Berbeda dari proses subtraktif (seperti milling atau turning), AM tidak menghilangkan material, melainkan membangun bentuk secara bertahap.
Contoh teknologi AM: FDM, SLA, SLS, Binder Jetting, dan Sheet Lamination.

Classification of Additive Manufacturing

Menurut ASTM F2792-12a, ada 7 klasifikasi utama proses AM:

NoKlasifikasiDeskripsi Singkat
1Vat PhotopolymerizationMenggunakan resin cair yang diawetkan dengan sinar UV (contoh: SLA).
2Material JettingMenyemprotkan tetesan material dan mengeraskannya secara selektif (PolyJet).
3Binder JettingMengikat partikel serbuk dengan cairan pengikat (Jet Binder).
4Material ExtrusionMengekstrusi material termoplastik (contoh: FDM).
5Powder Bed FusionMelebur serbuk logam/plastik dengan laser atau elektron (SLS, SLM).
6Sheet LaminationMenggabungkan lembaran material (LOM).
7Directed Energy DepositionMenyemprotkan dan melelehkan material secara langsung (DED).

Pre-Processing, Processing, and Post-Processing

A. FDM (Fused Deposition Modeling)

Pre-Processing:

  • Membuat model CAD → slicing → menentukan orientasi & support.
    Processing:

  • Filament termoplastik dilelehkan & diekstrusi lapis demi lapis.
    Post-Processing:

  • Penghilangan support, penghalusan permukaan, pengecatan.

B. SLA (Stereolithography Apparatus)

Pre-Processing:

  • Model CAD → slicing → menentukan posisi cetak.
    Processing:

  • Resin cair diawetkan oleh sinar laser UV lapis demi lapis.
    Post-Processing:

  • Cuci dengan alkohol, curing tambahan, dan finishing permukaan.

C. Binder Jetting (Jet Binder)

Pre-Processing:

  • File CAD → slicing → set parameter serbuk dan binder.
    Processing:

  • Serbuk disebarkan tipis, lalu binder disemprot sesuai bentuk.
    Post-Processing:

  • Pengeringan, sintering, atau infiltrasi logam.

D. Sheet Lamination

Pre-Processing:

  • Menentukan ketebalan lembaran, urutan pemotongan, dan desain lapisan.
    Processing:

  • Lembaran material dipotong dan direkatkan secara bertahap.
    Post-Processing:

  • Pemotongan akhir dan finishing.

Picture of the Above Processes

Advantages and Disadvantages

ProsesKelebihanKekurangan
FDMMurah, mudah digunakan, bahan banyak tersedia.Akurasi rendah, permukaan kasar, lambat.
SLAAkurasi tinggi, hasil halus, detail kecil.Resin mahal, butuh curing tambahan.
Binder JettingCepat, bisa cetak multi-material, ukuran besar.Kekuatan mekanik rendah, perlu sintering.
Sheet LaminationCepat dan murah untuk model besar.Akurasi rendah, sulit untuk bentuk kompleks.

Problem or Defect in Those Processes

ProsesJenis Cacat / DefectPenyebab
FDMWarping, delaminasiPendinginan tidak seragam, suhu nozzle tidak stabil
SLAOvercuring, layer shiftingKesalahan laser, resin terlalu kental
Binder JettingBinder bleed, porositas tinggiTerlalu banyak binder, sintering tidak sempurna
Sheet LaminationMisalignment, bonding failurePerekat tidak kuat, kesalahan alignment lapisan